Banyak hal yang tidak ku ketahui dan ku tulis disini

Selasa, 23 Oktober 2012

Tugas praktikum Farmasi fisik : KELARUTAN INTRINSIK OBAT

KELARUTAN INTRINSIK OBAT 
FARMASI FISIK

 

Oleh
PRAKTEK G KELOMPOK 5 : 


Asy Shahid Abdillah Musa (18123578A)
Asela nonilista puja lestari  (18123581A)
Franz June Navirius            (18123582A)
Nura Khoiriyah                 (18123577A)




FAKULTAS  FARMASI
UNIVERSITAS  SETIA  BUDI
SURAKARTA
2012/2013


I.TUJUAN
Memperkenalkan konsep dan proses pendukung sistem kelarutan obat dan menentukan parameter kelarutan zat.
II. DASAR TEORI
            Kelarutan adalah kadar solutedalam sejumlah solven pada suhu tertentu yang menunjukan bahwa interaksi spontan satu atau lebih solute dengan solven telah terjadi dan membentuk dispersi molekuler yang homogen.Suatu larutan dikatakan larutan jenuh apabila terjadi kesetimbangan antara fase solute dan fase solute dalam larutan yang bersangkutan.Variabel-variabel yang dapat dipilih untuk penetapan kelarutan di rumuskan oleh aturan fase Gibbs,yaitu F = C – P +2.
                        F = derajat kebebasan (variabel, misal: T, P, C)
                        C = Jumlah komponen
                        P =Jumlah fase
            Kelarutan dapat di ungkapkan melalui banyak cara antara lain dengan menyatakan jumlah pelarut (dalam ml) yang di butuhkan untuk setiap gram solute, dengan pendekatan yang berupa perbandingan. Kelarutan suatu zat (solute) dalam solven tertentu di gambarkan sebagai like disolves like (senyawa atau zat yang strukturnya menyerupai akan saling melarutkan).
            Kelarutan gas dalam cairan dipengaruhi tekanan, suhu, salting out dan reaksi kimia sedangkan perhitungan kelarutan dapat di lakukan menurut hukum Henry (tetapan α) maupun koefisien absorpsi Bunsen (tetapan α). Kelarutan cairan dapat digolongkan menjadi dua atas dasar ada tidaknya penyimpangan terhadap hukum Raoult. Larutan ideal (larutan nyata = real solution) apabila tidak ada penyimpangan terhadap hukum Raoult dan disebut larutan non ideal apabila ada penyimpangan.
            Kelarutan zat padat dalam (sebagai) larutan ideal adalah tergantung pada suhu percobaan (proses larut), suhu (titik) lebur solute, dan beda entalpi peleburan molar (∆Hf) solute (yang dianggap sama dengan panas pelarut molar solute). Hubungan tersebut yang diturunkan dari hukum-hukum termodinamika dirumuskan oleh Hildenbrand dan scott sebagai berikut :
                      ∆Hf                To - T
            -Log Xi2 = —————  ( ————  ) ............................................ (1)
                   2,303 R             T . To
            Xi=  Kelarutan ideal zat dalam fraksimol
            ∆  = Beda entalpi peleburan
            To = Suhu lebur
            T = Suhu percobaan
            R = Tetapan gas
            Untuk larutan non-ideal harus diperhitungkan pula faktor-faktor aktifitas solut yang koefisiennya sebanding dengan volume ( Molar ) Solute dan fraksi volume solven, parameter kelarutan (  ) yang besarnya sama dengan harga tekanan dalam (Pi) solute dan interaksi antara solven-solute. Dengan demikian persamaan yang paling sederhana untuk larutan non-ideal, dinyatakan sebagai kelarutan reguler oleh Scatchard-Hildebrand sebagai berikut :

                      ∆Hf             To – T            V2 . Ф21
-Log X2 = ————  ( ————  ) + ————  (            )2 ......................(2)
                   2,303 R               To                    2,303 RT




III. ALAT
·         Tabung uji kelarutan
·         Shaking Thermostaic Waterbath
·         Spektrofotometer UV-Vis
·         Alat-alat gelas
IV.  BAHAN
·         Natrium Asetat
·         Asam Asetat Glisial
·         Asetosal
·         Aquades
·         Alkohol
V. CARA KERJA
1. Pembuatan larutan Dapar Asetat  PH 4,5 ; 0,05 M  2L
            Natrium Asetat : 5,98 gram
            Asam Asetat  Glasial : 3,32 mL
Natrium asetat ditimbang + dilarutkan dengan aquadest + asam asetat glasial, diaduk dan ditambah aquadest sampai tanda batas.
2. Baku asetosal
            Asetosal ditimbang 30 mg/100 ml
Ditimbang 30 mg asetosal + 5 mL alkohol sampai larut ditambah buffer asetal, aduk sampai tanda batas dalam 1 L, 100 mL
3. Buat konsentrasi asetosal
4. Masing-masing kelompok menimbang asetosal 50 mg
I. suhu 29o
II.suhu 37o
III.suhu 42o
Baru menggunakan spektro  λ 265 mm
   














VI. HASIL PRAKTIKUM
ml
Abs

1
0,131
19,08
2
0,186
38,16
3
0,245
57,24
4
0,250
76,32
5
0,317
95,40
6
0,367
114,48
7
0,440
133,56

    Y = a + bx
0,330 = 0,0821 + 2,5475 . 10-3 (x)
             0,330 – 0,0821
      X = ——————
               2,5475 . 10-3
           = 97,311 ppm
           = 97,311 mg/1000ml
           = 0,097311 gram



VII. PEMBAHASAN
            Larutan merupakan campuran homogen dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan masing-masing zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi secara fisik. Suatu larutan dikatakan jenuh apabila terjadi kesetimbangan antara fase solut dan fase solven dalam larutan yang bersangkutan (Purba, 2007). 
            Kelarutan adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Pada percobaan ini digunakan beberapa larutan sebagai sampel diantaranya,  Natrium Asetat  dalam pelarut asam asetat glasial, alkohol, dan Asam Asetat  Glasial .
Percobaan dilakukan dengan cara berikut :
1. Pembuatan larutan Dapar Asetat  PH 4,5 ; 0,05 M  2L
            Natrium Asetat : 5,98 gram
            Asam Asetat  Glasial : 3,32 mL
Natrium asetat ditimbang + dilarutkan dengan aquadest + asam asetat glasial, diaduk dan ditambah aquadest sampai tanda batas.
2. Baku asetosal
            Asetosal ditimbang 30 mg/100 ml
Ditimbang 30 mg asetosal + 5 mL alkohol sampai larut ditambah buffer asetal, aduk sampai tanda batas dalam 1 L, 100 mL
3. Buat konsentrasi asetosal
4. Masing-masing kelompok menimbang asetosal 50 mg
I. suhu 29o                        III.suhu 42o
II.suhu 37o                       IV.Baru menggunakan spektro  λ 265 mm
Sehingga kami mendapatkan hasil dalam tabel dibawah ini dari masing-masing kelompok:
ml
Abs

1
0,131
19,08
2
0,186
38,16
3
0,245
57,24
4
0,250
76,32
5
0,317
95,40
6
0,367
114,48
7
0,440
133,56

Dengan perhitungan dibawah ini :
      Y = a + bx
0,330 = 0,0821 + 2,5475 . 10-3 (x)
             0,330 – 0,0821
      X = ——————
               2,5475 . 10-3
          = 97,311 ppm
          = 97,311 mg/1000ml
          = 0,097311 gram


VIII. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Kelarutan adalah kadar solute dalam sejumlah solven pada suhu tertentu yang menunjukan bahwa interaksi spontan satu atau lebih solute dengan solven telah terjadi dan membentuk dispersi molekuler yang homogen. Suatu larutan dikatakan larutan jenuh apabila terjadi kesetimbangan antara fase solute dan fase solute dalam larutan yang bersangkutan.Variabel-variabel yang dapat dipilih untuk penetapan kelarutan di rumuskan oleh aturan fase Gibbs,yaitu F = C – P +2.
                        F = derajat kebebasan (variabel, misal: T, P, C)
                        C = Jumlah komponen
                        P =Jumlah fase
Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia yang penting untuk diperhatikan pada tahap preformulasi sebelum memformula bahan obat menjadi sediaan. Proses kelarutan zat dipengaruhi oleh polaritas pelarut yaitu momen dipolnya, dimana pelarut polar akan melarutkan lebih baik zat-zat polar dan ionik. Besarnya tetapan dielektrik yang terjadi pada proses kelarutan dapat diatur dengan penambahan pelarut lain. Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, temperatur, tekanan, pH larutan, viskositas zat, pengadukan, ukuran partikel, polimorfisme, sifat permukaan zat  dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada hal terbaginya zat terlarut. Untuk zat cair dan zat padat, tekanan mempunyai efek yang kecil terhadap kelarutan.



IX. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Petunjuk Praktikum Farmasi Fisik I. Surakarta : Universitas Setia Budi.
Fiandari Asti. 2011. http://sweetest-tea.blogspot.com/2012/04/kelarutan-intrinsik-obat.html. 23 Oktober 2012
Kurniawati Mei. 2012 http://meysweb.wordpress.com/2012/05/27/percobaan-1-kelarutan-intrinsik-obat/. 23 Oktober 2012

Nb :
Mohon maaf apabila masih ada terdapat kesalahan, dikarenakan penulis juga sedang dalam tahap pembelajaran !

2 komentar:

Jika ada yang ingin kalian tanya atau tambahkan mengenai tulisan ini, silahkan tinggalkan komentar. InsyaAllah kami siap menjawabnya :)